BANDA ACEH - Koordinator Lapangan Aceh Birding Club (AWC) 2026, Tedi Wahyudi, mengatakan awal Februari adalah waktu yang spesial bagi pesisir Aceh. Saat hujan masih setia turun dan sawah-sawah mulai menghijau, ribuan burung air datang singgah. Dari muara sungai, tambak, hingga hamparan sawah, burung-burung ini seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan masyarakat pesisir.
"Kami memanfaatkan waktu ini untuk mendata burung air. AWC merupakan kegiatan tahunan berskala Asia yang bertepatan dengan Hari Lahan Basah Sedunia, dengan tujuan memantau populasi burung air sekaligus menjaga keberlanjutan lahan basah yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat," kata Tedi, Selasa, 10 Februari 2026.
Di Aceh, kata Tedi, kegiatan AWC dilaksanakan bersama-sama oleh relawan dari Aceh Birding Club (ABC), Kelompok Studi Lingkungan Hidup Aceh (KSLH-Aceh), dan Let’s Birding Sumatera. Kegiatan ini sudah rutin dilakukan sejak 2017 dan menjadi bagian dari upaya menjaga kekayaan hayati Aceh yang selama ini dikenal masih cukup terjaga.
Survei AWC 2026 berlangsung pada 2–5 Februari 2026, menyusuri wilayah Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, hingga Pidie Jaya. Tim relawan menyusuri pesisir timur pantai Aceh, mendata burung-burung air yang beraktivitas di rawa, tambak, muara, dan persawahan—ruang-ruang yang sehari-hari juga dimanfaatkan masyarakat untuk mencari nafkah.
Hasilnya, sekitar 5.000 ekor burung kuntul berhasil didata, terdiri dari kuntul kerbau, kuntul kecil, dan kuntul perak. Selain itu, tercatat pula 30 ekor kowak malam abu, lima ekor kuntul karang, enam ekor blekok sawah, 1 ekor kokokan laut, serta 150 ekor bangau nganga Asia.
Kehadiran bangau nganga Asia menjadi catatan menarik dalam sensus tahun ini. Bangau migran ini dikenal oleh petani sebagai pemakan keong. Kedatangannya yang bertepatan dengan musim tanam padi menjadi pertanda baik, karena membantu petani mengurangi serangan keong emas, hama yang kerap merusak tanaman padi. Tak jarang pula bangau ini memangsa tikus di areal sawah.
"Keberadaan burung-burung air adalah bagian dari keseimbangan alam yang sudah lama berjalan di Aceh," kata Tedi. “Berbagi ruang dengan burung adalah hal yang bijak. Hubungan saling menguntungkan ini harus tetap kita jaga. Burung air membantu petani, sementara kita berkewajiban menjaga mereka agar tetap aman di alam.”
Tedi juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan burung air sebagai sasaran perburuan. Selain merusak ekosistem, memakan burung liar juga berbahaya bagi kesehatan. Tedi mengatakan burung-burung itu berpotensi membawa virus dan penyakit.
Selama kegiatan AWC berlangsung, relawan juga menyampaikan informasi langsung kepada masyarakat, terutama petani, tentang pentingnya hidup berdampingan dengan burung air. Bagi para relawan, burung-burung ini bukanlah pengganggu, melainkan kawan petani yang membantu menjaga sawah tetap produktif.
Melalui AWC 2026, para relawan berharap kesadaran masyarakat Aceh semakin tumbuh untuk menjaga burung air dan habitatnya. Sebab, selama burung-burung air masih setia singgah di pesisir dan persawahan Aceh, selama itu pula lahan basah kita masih hidup dan memberi manfaat bagi semua.***

0 Comments